Harga Murah | Modal Kecil | Resiko Rendah | Balik Modal Cepat | Keuntungan Besar

newlogobp1
  • Potensi Ritel di Indonesia

    Berikut hasil riset dari AC Nielsen tahun 2007 :

    Total Penjualan Ritel di Indonesia (Total 51 Kategori):
    2003: 41,929 Trilyun Rupiah
    2004: 48,642 Trilyun Rupiah (meningkat 13,8%)
    2005: 57,244 Trilyun Rupiah (meningkat 17,7%)
    2006: 63,558 Trilyun Rupiah (meningkat 14,3%)

    Beberapa kondisi terkini yang berpotensi mendukung perkembangan usaha ritel yang “mendekatkan diri ke konsumen”:

    • Meningkatnya Pasangan Bekerja (Double Income Family)
    • Selain meningkatnya daya beli, timbul kebutuhan untuk mendapatkan barang/jasa dalam waktu yang cepat dan tepat. Produk yang dibutuhkan menjadi lebih bervariasi, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan wanita bekerja.
    • Pertumbuhan Kota-kota Satelit
    • Pola pembelanjaan daily goods bergeser dari yang dahulu terpusat di gerai-gerai besar di pusat kota (mal/plaza) menjadi pembelanjaan cepat di minimarket atau lewat delivery shopping, terutama karena faktor waktu (jarak, kemacetan lalu lintas) dan biaya transportasi (bensin, tol).
    • Piramida Kependudukan Semakin Cembung. Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk usia muda (0-19 tahun) cenderung tetap dengan proporsi menurun, sedang segmen usia produktif (20-49 tahun) meningkat hingga 1,6x lipat sebanyak 48 juta jiwa dibanding tahun 1990. Segmen usia lanjut (> 50 tahun) meningkat 1,9 juta kali lipat. Piramida penduduk yang semakin cembung ini menunjukkan bahwa kebutuhan produk untuk segmen usia produktif dan lanjut akan terus meningkat.
    • Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Hadirnya teknologi baru selalu mengubah gaya hidup masyarakat. Informasi dapat diberikan langsung dalam bentuk interaktif, bukan hanya dengan promosi langsung dari produsen/penjual, namun dari testimoni dan dorongan relasi lewat jejaring sosial (chat,facebook,BB msg,dsb.).
    • Pengalaman positif dari suatu merk/jasa akan mendapat apresiasi dan pencitraan positif, sebaliknya pengalaman negatif akan segera mendapat pencitraan negatif yang menyebar dengan cepat. Kemampuan peritel untuk berkomunikasi menjadi sangat vital. Kunci keberhasilan peritel adalah kemampuan menjaga hubungan dan komunikasi timbal balik.

    Berikut cuplikan dari kolom redaksional majalah MARKETING edisi 17/IX/Juli 2009, ditulis oleh PJ. Rahmat Susanta (Editor in Chief):

    Ritel adalah ujung tombak bagi marketer dalam memasarkan produknya. Semakin kuatnya pengaruh ritel di konsumen membuat ketergantungan marketer terhadap peritel juga semakin besar.

    Namun demikian masih banyak peritel yang lebih bermental pedagang. Hanya menjadi perantara yang mengambil marjin setinggi-tingginya. Padahal banyak sekali aspek marketing yang bisa dijalankan supaya hubungan antara marketer dengan konsumen (lewat ritel) bisa berjalan harmonis.

    Dari sisi konsumen, pada jaman sekarang ritel bukan sekedar toko. Ada keterlibatan emosional yang harus dibangun dengan pelanggan. Ada unsur kepuasan yag harus dijaga terus menerus. Ada brand experience yang harus dirasakan oleh konsumen. Itulah sebabnya peritel pada masa sekarang ini juga harus memiliki strategi marketing yang jitu

    Dan berikut cuplikan dari majalah yang sama pada kolom Marketing Insight, artikel “Optimalkan Teknologi dalam Industri Ritel”:

    Sebagai bisnis yang memperdagangkan kebutuhan pokok masyarakat, Pasar Modern diperkirakan masih dapat bertumbuh selama beberapa tahun ke depan, walaupun tidak sepesat tahun-tahun sebelumnya. Menurut Aprindo, jika pada 2004-2008 omzet Pasar Modern bertumbuh rata-rata 20% per tahun, pada 2009 dan 2010 saat dampak negatif krisis mencapai puncaknya, pertumbuhan diperkirakan hanya pada kisaran 5-10%. Namun, seiring membaiknya perekonomian global di 2011, pertumbuhan omzet diperkirakan akan kembali mendekati laju pertumbuhan sebelum krisis global terjadi.

    Oleh karena itu bisnis ritel harus dapat berinovasi secara berkesinambungan …. Menurut Barry Lemmon, Global Head of Retail & Shopper Insights, TNS International, landscape bisnis ritel dalam beberapa tahun ke depan akan bergerak mengikuti perkembangan teknologi dan bertransformasi secara menyeluruh …. konsumen akan lebih banyak berinteraksi kepada para penjual dan pemasok, dengan mengoptimalkan kapabilitas jaringan melalui media online maupun komunitas yang semakin berperan besar dalam hubungan dan interaksi sosial …. Customer involvement dalam tahapan awal pengembangan produk menjadi semakin penting, serta masa depan dari industri ritel adalah people-power melalui peningkatan tawar konsumen secara bersama-sama dan terorganisir.

    Well… banyak materi bagus di majalah tersebut. Kalau saya tulis semua, itu namanya bukan lagi mengutip, tapi menjiplak. Jadi untuk Anda yang ingin memperluas wawasan, silakan beli sendiri majalah ini (bukan iklan ya, ga ada perjanjian komisi. Tapi memang edisi tsb. bagus, recommended…)
    Kalau Anda beli majalah tsb., ada dua artikel penting untuk dibaca (di segmen utama): “Tidak Zamannya Lagi Perang Harga” dan “10 Cara Ritel untuk Sukses”.

    Retail Networking adalah bidang baru dalam dunia ritel (kita boleh berbangga bahwa Tianshi adalah perusahaan pertama yang mengimplementasikan ritel networking dalam arti yang sebenarnya). Dalam banyak hal Retail Networking (RN) memiliki sifat-sifat ritel modern (dalam hal skala operasi, volume transaksi, penerapan sistem IT terpadu, tata administrasi, standar pelayanan, dsb.), namun dalam hal pelaku ritel dan cara distribusi, RN lebih mengacu pada pasar tradisional yang dimodernisasi (baca: disistemkan). Saya akan membahas tentang RN ini di artikel yang lain. Yang ingin saya tekankan dalam catatan ini, banyak pihak memprediksi bahwa perkembangan ritel modern mengalami pelambatan. Memperhatikan trend yang ada dan situasi terkini saya cenderung setuju dengan analisa tersebut, dan justru di sinilah peluang untuk RN untuk berkembang. Pelambatan pada perkembangan ritel modern ini sebetulnya dapat dibatasi pada penggunaan store-format retailing (ritel berbasis toko, misalnya hypermarket, minimarket, convenience store, dsb.) — yang akibat booming sangat cepat dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan kejenuhan pasar di beberapa daerah padat. Namun secara keseluruhan, potensi pasar untuk segmen ini masih terbuka lebar… Indonesia is a big country! Dan tentu saja kondisi perekonomian global akan sangat mempengaruhi pertumbuhan pasar. Secara siklus, setelah resesi global ini lewat akan terjadi peningkatan dramatis dalam akselerasi ekonomi secara makro, yang diikuti meningkatnya daya beli dan naiknya permintaan pasar.

    Dalam format non-store retailing seperti RN yang melandaskan diri pada pembangunan hubungan dan kontak langsung dengan konsumen, pasar ritel justru akan mengalami akselerasi yang sangat cepat, dan berbeda dengan saudara tuanya (store-based retail), RN memiliki basis yang kuat karena dibangun berdasarkan positive experience. Baca buku-buku marketing yang banyak tersedia di toko buku, semuanya, dengan gaya masing-masing yang berbeda-beda, mengacu pada satu hal: memenangkan loyalitas konsumen dengan menciptakan pengalaman/pencitraan pribadi (bahasa Hermawan Kartajaya: marketing is a battle of perception inside consumer’s mind).

    by Ferdinand F. Liu

     

    One response to “Potensi Ritel di Indonesia”

    1. [...] <!– Posted on September 1st, 2009 banner No comments [...]

    Leave a reply